Profil dan Sejarah Partai Kebangkitan Bangsa

Partai Kebangkitan Bangsa. KONTROVERSI RAKYAT/Redaksi

By
4 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Partai Kebangkitan Bangsa. KONTROVERSI RAKYAT/Redaksi

PARTAI Kebangkitan Bangsa atau PKB adalah partai politik di Indonesia yang didirikan pada tahun 1998. PKB memiliki akar kuat dalam organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan dikenal sebagai partai yang mewakili suara Muslim moderat.

Partai ini memiliki komitmen untuk memperjuangkan keadilan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan toleransi antaragama. PKB dipimpin oleh Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, dan telah berperan dalam berbagai pemerintahan koalisi baik di tingkat nasional maupun daerah. Dengan basis pemilih yang solid dan dukungan dari basis NU yang luas, PKB terus menjadi salah satu kekuatan politik yang relevan di Indonesia.

Sejarah PKB berawal dari setelah runtuhnya era Orde Baru bersamaan dengan lengsernya Soeharto dari posisi presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Partai Kebangkitan Bangsa, partai politik yang memiliki hubungan erat dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

PBNU menerima banyak usulan dari warga Nahdliyin di berbagai wilayah Indonesia yang menginginkan pembentukan badan atau partai politik untuk menyalurkan aspirasi mereka di seluruh negara. Muncul banyak aspirasi yang menimbulkan konflik. Ada 39 nama partai politik yang diusulkan, termasuk visi misi, rumusan AD/ART, dan calon pengurus parpol NU. PBNU mengakomodasi usulan-usulan tersebut, namun juga berhati-hati karena NU sebelumnya tidak terkait dengan partai politik berdasarkan keputusan Muktamar NU 1984.

Ketidakpuasan warga Nahdliyin terhadap sikap PBNU menghasilkan deklarasi beberapa partai politik berbasis NU, seperti Partai Bintang Sembilan di Purwokerto dan Partai Kebangkitan Umat di Cirebon. Pada tanggal 3 Juni 1998, PBNU mengadakan rapat dan membentuk Tim Lima yang dipimpin oleh K.H. Ma’ruf Amin untuk memenuhi aspirasi masyarakat Nahdliyin. Tim Asistensi juga terbentuk untuk membantu dalam menampung dan menginventarisasi usulan-usulan pembentukan partai politik baru dari kaum Nahdliyin.

Pada tanggal 23 Juni 1998, PKB terbentuk sebagai wadah aspirasi warga NU. Pendirian PKB dilakukan di kediaman Gus Dur, Ketua Umum PBNU, dengan kehadiran beberapa tokoh NU seperti KH Ilyas Rukhiat, KH Mustofa Bisri, KH Munasir Ali, dan KH Muchit Muzadi. Matori Abdul Djalil terpilih sebagai Ketua Umum PKB.

PKB ikut serta dalam pemilu tahun 1999 bersaing dengan 49 peserta lainnya. Partai ini berhasil memperoleh 13.321.837 suara atau 12,62% dan 51 kursi di DPR, menjadi prestasi yang mengagumkan sebagai partai politik pendatang baru. PKB mampu bersaing dengan partai politik yang telah lama berdiri seperti PDIP dan Partai Golkar. PKB juga berhasil mengungguli Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang lebih tua, menempati peringkat ke-4. Keberhasilan PKB ini tak lepas dari pengaruh dan penghormatan masyarakat terhadap sosok Gus Dur, terutama di kalangan Nahdliyin.

Pada pemilu tahun 2004, PKB mengalami penurunan suara dengan 11.989.564 suara atau 10,56% dan 52 kursi di DPR. Pada pemilu 2009 di bawah kepemimpinan Cak Imin, PKB mengalami penurunan suara signifikan dengan hanya 5.149.122 suara atau 4,94% dan 27 kursi, hampir separuh dari hasil pemilu 2004.

PKB bangkit pada pemilu 2014 dengan suara memuaskan, yaitu 11.298.957 suara atau 9,04% dan 47 kursi di DPR. Pada pemilu 2019, PKB menempatkan KH. Ma’ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden dan berhasil memenangkan Pilpres 2019. PKB meraih 13.570.097 suara atau 9,69% serta 58 kursi di DPR. PKB mengalami peningkatan suara dari pemilu.   (redaksi)

Share This Article