CELIOS JELASKAN 75% RESPONDEN MENGAKU STRES SOAL KEBIJAKAN PEMERINTAH

By
2 Min Read
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. (Foto: Gibran Rakabuming)

Kontroversi-Rakyat.com | Center of Economic and Law Studies atau CELIOS menjelaskan bahwa 75% responden mengaku mengalami stres akibat kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Temuan tersebut tercantum dalam laporan Rapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran untuk periode 2024–2029. Terbitan CELIOS yang melibatkan 1.142 responden masyarakat umum dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia.

Berdasarkan hasil survei, sebanyak 75% responden menyatakan merasa stres terhadap kebijakan pemerintah, sedangkan 17% mengaku tidak stres dan yang 8% lainnya menjawab tidak tahu.

Selain sikap kebijakan pemerintah, CELIOS turut mengukur persepsi responden terhadap perilaku Presiden Prabowo Subianto. Hasilnya, 67% responden mengaku mengalami stres akibat perilaku Presiden, sementara 23% tidak merasakan stres dan 9% menjawab tidak tahu.

Soal hasil survei CELIOS juga memperlihatkan sejumlah persoalan ekonomi yang menjadi perhatian responden. Tekanan ekonomi dirasakan masyarakat.

Ekonomi membebani kebanyakan rakyat Indonesia. 

Sekitar 82% responden menilai pajak dan pungutan pemerintah terlalu berat. Sementara itu, 53% mengaku kondisi ekonomi rumah tangganya memburuk dibandingkan setahun sebelumnya.

Terkait sektor ketenagakerjaan, sangat besar dengan angka 62% responden memberikan penilaian buruk atau sangat buruk terhadap upaya pemerintah dalam mengatasi pengangguran dan membuka lapangan kerja.

Penilaian terhadap kinerja pemerintahan juga tergolong rendah. Kabinet Merah Putih memperoleh nilai rata-rata 4,7 dari 10 berdasarkan penilaian masyarakat umum dan 2,9 dari 10 menurut kelompok ahli.

Laporan yang sama, sebanyak 78% responden menempatkan tingginya harga kebutuhan pokok sebagai persoalan mendesak yang perlu ditangani pemerintah. Sebanyak 58% lainnya memilih persoalan lapangan kerja dan perlindungan pekerja.

Waktu survei CELIOS dilaksanakan pada 15 September hingga 9 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.142 responden masyarakat umum dan 129 responden ahli.

Survei masyarakat menggunakan metode non-probability sampling melalui Meta Ads, disertai pembobotan (weighting) untuk menyesuaikan komposisi sampel dengan karakteristik populasi acuan ini.

Untuk, survei ahli menggunakan metode snowball sampling. CELIOS juga melakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrumen penelitian.   (Sumber: CELIOS)

Share This Article